Pendaki gunung asal Norwegia, Kristin Harila, menyelesaikan pencapaian bersejarah pada 27 Mei 2026 dengan menaklukkan puncak Gunung Everest (8.848 m) bersama Mingtemba Sherpa dan Pasang Dukpa pukul 08.45 pagi waktu Nepal. Pendakian Everest ini menjadi summit ketiga yang melengkapi "Triple Crown" Himalaya — sebuah proyek ambisius untuk mendaki Nuptse (7.861 m), Lhotse (8.516 m), dan Everest dalam satu musim pendakian yang sama.
Norwegian mountaineer Kristin Harila achieved a historic feat on May 27, 2026, summiting Mount Everest (8,848 m) alongside Mingtemba Sherpa and Pasang Dukpa at 8:45 AM Nepal time. The Everest summit marked the third and final peak completing her "Himalayan Triple Crown" — an ambitious project to climb Nuptse (7,861 m), Lhotse (8,516 m), and Everest within a single climbing season.
Pencapaian ini memiliki makna historis yang luar biasa. Hanya empat orang dalam sejarah yang pernah menyelesaikan "Triple Crown" Himalaya ini sebelumnya, dan Harila menjadi wanita pertama yang berhasil melakukannya. Dalam rentang sepuluh hari, ia menaklukkan Nuptse (17 Mei) diikuti Lhotse (21 Mei) dan akhirnya Everest (27 Mei) — tiga puncak yang membentuk dinding raksasa di jantung kawasan Khumbu, Nepal.
The achievement holds immense historical significance. Only four people in history had previously completed this "Himalayan Triple Crown," and Harila became the first woman to do so. Within a span of ten days, she summited Nuptse (May 17), followed by Lhotse (May 21), and finally Everest (May 27) — three peaks forming a colossal wall at the heart of the Khumbu region in Nepal.
Perjalanan Harila tidak lepas dari kontroversi. Rencana awal adalah mendaki ketiga puncak tanpa oksigen tambahan — sebuah standar yang lebih ketat dan lebih bergengsi di kalangan komunitas mountaineering. Namun pada pendakian Lhotse, kondisi angin di atas 8.100 meter jauh lebih keras dari prediksi. Harila memutuskan menggunakan oksigen tambahan demi keselamatan. Keputusan ini memantik perdebatan di kalangan pendaki tentang batas antara ambisi dan kebijaksanaan.
Harila's journey was not without controversy. The original plan called for climbing all three peaks without supplemental oxygen — a stricter and more prestigious standard in the mountaineering community. However, during the Lhotse ascent, wind conditions above 8,100 meters were far more severe than forecast. Harila chose to use supplemental oxygen for safety. This decision sparked debate among climbers about the line between ambition and wisdom.
"Gunung ini benar-benar menguji kami hari ini dengan angin yang jauh lebih kencang dari perkiraan di Lhotse Couloir. Karena kondisi tersebut, saya memutuskan untuk memakai oksigen di sekitar 8.100 meter. Bagi saya, gunung tidak pernah tentang mengambil risiko yang tidak perlu atau membuktikan sesuatu dengan segala cara. Keselamatan selalu menjadi prioritas utama, dan kadang keputusan terkuat adalah beradaptasi dengan kondisi dan membuat pilihan yang baik bersama tim."
"The mountain really tested us today with winds that were much stronger than expected in the Lhotse Couloir. Because of the conditions, I decided to put on oxygen at around 8,100 meters. For me, the mountains have never been about taking unnecessary risks or proving something at all costs. Safety always comes first, and sometimes the strongest decision is adapting to the conditions and making good choices together with the team."
— Kristin Harila, Pendaki Pemegang Rekor 14 Puncak 8.000 m dalam 92 HariWorld Record Holder for 14 Eight-Thousanders in 92 Days
Bagi Harila, Triple Crown musim semi 2026 bukan pencapaian pertama yang mengguncang dunia mountaineering internasional. Pada 2023, bersama mendiang Tenjen Lama Sherpa, ia mencatat rekor dunia mendaki seluruh 14 puncak di atas 8.000 meter hanya dalam 92 hari — sebuah rekor yang belum tertandingi. Pendakian Everest kali ini juga menjadi summit ke-30 Harila pada gunung di atas 8.000 meter, angka yang hanya dicapai segelintir pendaki sepanjang sejarah.
For Harila, the spring 2026 Triple Crown is not her first achievement to shake the international mountaineering world. In 2023, alongside the late Tenjen Lama Sherpa, she set the world record for climbing all 14 peaks above 8,000 meters in just 92 days — a record that still stands. The Everest summit also marked Harila's 30th ascent of a mountain above 8,000 meters, a figure reached by only a handful of climbers throughout history.
Pencapaian Harila memperkuat posisi musim semi 2026 sebagai salah satu musim pendakian Himalaya paling bersejarah dalam satu dekade terakhir. Di musim yang sama, Kami Rita Sherpa memperpanjang rekornya dengan summit ke-32 di Everest, sementara pendaki Nepal berusia 16 tahun, Tshering Pasang Sherpa, mencapai Everest dan menjadi salah satu summiteer termuda. Musim 2026 menjadi cermin kemajuan sekaligus kompleksitas dunia mountaineering modern.
Harila's achievement reinforces the spring 2026 season as one of the most historically significant Himalayan climbing seasons in the past decade. In the same season, Kami Rita Sherpa extended his record with a 32nd Everest summit, while 16-year-old Nepali climber Tshering Pasang Sherpa reached Everest, becoming one of the youngest summiteers on record. The 2026 season is both a mirror of progress and a reflection of the complexity of modern mountaineering.
Bagi komunitas mountaineering Indonesia, pencapaian seperti ini menjadi inspirasi sekaligus pengingat akan nilai-nilai inti pendakian: persiapan matang, keputusan berbasis kondisi nyata di lapangan, dan prioritas keselamatan di atas ambisi pribadi. FMI terus memantau perkembangan dunia mountaineering internasional sebagai bagian dari upaya peningkatan standar, kapasitas, dan wawasan global para pendaki Indonesia.
For the Indonesian mountaineering community, achievements like this serve as both inspiration and a reminder of core climbing values: thorough preparation, decisions grounded in real field conditions, and safety above personal ambition. FMI continues to monitor international mountaineering developments as part of its ongoing effort to raise standards, capacity, and global awareness among Indonesian climbers.