Pendaki ski asal Polandia, Bartosz "Bartek" Kacper Ziemski, mencetak sejarah dunia pendakian gunung pada musim semi 2026. Dalam rentang tujuh hari, ia menjadi orang pertama di dunia yang berhasil ski turun dari puncak Lhotse (8.516 m) pada 12 Mei, kemudian mengulangi prestasi serupa dari puncak Everest (8.848 m) pada 19 Mei — keduanya tanpa oksigen tambahan dan tanpa dukungan pemandu Sherpa pribadi.

Polish ski mountaineer Bartosz "Bartek" Kacper Ziemski made mountaineering history during the spring 2026 season. Within seven days, he became the first person ever to ski down from the summit of Lhotse (8,516 m) on May 12, then repeated the feat on Everest (8,848 m) on May 19 — both without supplemental oxygen and without personal Sherpa support.

Pendakian Lhotse oleh Ziemski dilakukan sepenuhnya dalam gaya alpine murni. Ia memanjat sendirian dari Camp IV ke puncak tanpa menggunakan tali tetap yang telah dipasang oleh tim lain, tanpa jalur yang sudah diinjak sebelumnya, dan tanpa botol oksigen — sebuah prestasi yang bahkan jarang dilakukan oleh para profesional paling berpengalaman di Himalaya. Direktur Ekspedisi Seven Summit Treks, Chhang Dawa Sherpa, mengonfirmasi bahwa Ziemski menyelesaikan penurunan ski penuh dari puncak hingga kembali ke Base Camp, termasuk melintasi Khumbu Icefall yang penuh crevasse dan serak berbahaya, dan tiba kembali sebelum pukul 17.00.

Ziemski's Lhotse ascent was conducted in pure alpine style. He climbed solo from Camp IV to the summit without using any pre-fixed ropes, breaking trail through fresh snow without any support — a feat rarely attempted even by the most seasoned Himalayan professionals. Seven Summit Treks Expedition Director Chhang Dawa Sherpa confirmed a complete ski descent from the summit all the way back to Base Camp, including a crossing of the treacherous Khumbu Icefall with its seracs and crevasse-bridging ladders, arriving back before 5 pm.

Tujuh hari kemudian, pada 19 Mei 2026, Ziemski kembali mengulangi aksinya di gunung tertinggi di dunia. Ia mendaki Everest sendirian dalam gaya alpine dari Camp IV, mencapai puncak tanpa oksigen tambahan, lalu ski turun penuh kembali ke Base Camp. Pencapaian ini menjadikannya orang pertama yang berhasil melakukan double ski descent dari Lhotse dan Everest dalam satu musim — suatu kombinasi yang sebelumnya belum pernah ada yang mencoba, apalagi berhasil.

Seven days later, on May 19, 2026, Ziemski repeated the feat on the world's highest mountain. He ascended Everest solo in alpine style from Camp IV, reached the summit without supplemental oxygen, then skied all the way back to Base Camp. This made him the first person ever to complete a double ski descent of both Lhotse and Everest in a single season — a combination no one had previously attempted, let alone achieved.

"Mendaki sendirian dalam gaya alpine dari Camp IV ke puncak tanpa dukungan Sherpa, ia kemudian menyelesaikan penurunan ski penuh yang luar biasa dari puncak kembali ke Base Camp."

"Climbing solo in alpine style from Camp IV to the summit without Sherpa support, he then completed an incredible full ski descent from the summit all the way back to Base Camp."

— Chhang Dawa Sherpa, Direktur Ekspedisi, Seven Summit TreksExpedition Director, Seven Summit Treks

Pencapaian Ziemski bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Sebelum musim 2026, ia telah menyelesaikan ski descent dari tujuh puncak 8.000 meter lainnya — semuanya tanpa oksigen tambahan: Annapurna I, Kangchenjunga, Dhaulagiri, Makalu, Manaslu, Gasherbrum I, dan Broad Peak. Ia bahkan tercatat sebagai orang pertama yang ski turun dari Dhaulagiri dan Kangchenjunga. Dengan Lhotse dan Everest di musim 2026 ini, total 8.000er-nya yang telah didaki dan di-ski kini mencapai sembilan gunung.

Ziemski's achievement did not come out of nowhere. Before the 2026 season, he had already completed ski descents from seven other eight-thousanders — all without supplemental oxygen: Annapurna I, Kangchenjunga, Dhaulagiri, Makalu, Manaslu, Gasherbrum I, and Broad Peak. He was the first person to ski Dhaulagiri and Kangchenjunga. With Lhotse and Everest in the 2026 season, his total of climbed-and-skied eight-thousanders now stands at nine.

Bagi komunitas pendakian gunung Indonesia, prestasi Ziemski menjadi cerminan tentang apa yang mungkin dicapai melalui dedikasi metodis terhadap gaya alpine — pendekatan mendaki mandiri yang mengandalkan kemampuan teknis, fisik, dan mental tanpa bergantung pada infrastruktur komersial. Sementara sebagian besar pendaki Everest 2026 menggunakan oksigen bottled dan jalur yang sudah ditetapkan oleh ratusan Sherpa, Ziemski memilih jalur yang paling murni dan paling berat, serta menambahkan dimensi ski descent yang membuat pencapaiannya melampaui sekadar pendakian puncak biasa.

For the Indonesian mountaineering community, Ziemski's achievement offers a compelling lesson about what methodical dedication to alpine style can achieve — an approach that relies purely on technical skill, physical conditioning, and mental fortitude rather than commercial infrastructure. While most 2026 Everest climbers used bottled oxygen and routes established by hundreds of Sherpas, Ziemski chose the most demanding line and added a ski descent dimension that elevated his achievement far beyond a conventional summit.

Dengan musim panas 2026 kini dimulai, Ziemski dikabarkan mulai mengarahkan perhatiannya ke puncak-puncak 8.000 meter yang belum pernah ia ski — menyisakan lima gunung lagi untuk melengkapi seluruh 14 delapan-ribuan. Jika konsisten, ia berpotensi menjadi pendaki pertama yang ski turun dari seluruh 14 puncak 8.000 meter tanpa oksigen tambahan — sebuah "holy grail" dalam dunia pendakian ski gunung tinggi yang belum pernah dicapai siapapun.

With the summer 2026 season now underway, Ziemski is reportedly turning his attention to the eight-thousanders he has yet to ski — five peaks remaining to complete all 14. If consistent, he could become the first person ever to ski descend all 14 eight-thousanders without supplemental oxygen — a "holy grail" of high-altitude ski mountaineering that no one has yet achieved.