Dua alpinis kelas dunia, Aleš Česen dari Slovenia dan Lukas Woerle dari Austria, tengah mempersiapkan diri untuk salah satu misi paling ambisius musim panas ini: traverse Gasherbrum I (8.080 m) di Karakoram, Pakistan. Traverse — mendaki melalui satu jalur dan turun lewat jalur yang berbeda — adalah salah satu bentuk pendakian teknis paling jarang berhasil dilakukan di puncak-puncak 8.000 meter, dan Gasherbrum I sendiri hanya memiliki sekitar 200 pendaki yang pernah mencapai puncaknya sejak pertama kali ditaklukkan pada 1958.

Two world-class alpinists, Aleš Česen of Slovenia and Lukas Woerle of Austria, are preparing for one of the most ambitious missions of this summer: a traverse of Gasherbrum I (8,080 m) in the Karakoram, Pakistan. A traverse — ascending via one route and descending via a different one — is among the rarest and most technically demanding achievements on the 8,000-meter peaks. Gasherbrum I has seen only around 200 successful summits since its first ascent in 1958.

Saat ini, keduanya berada di Pakistan dalam fase aklimatisasi yang terencana dengan ketat. Pekan ini, Česen dan Woerle berhasil mencapai puncak Khosar Gang (6.040 m) di Lembah Shigar, dekat Skardu — sebuah puncak yang dipilih secara strategis untuk membangun adaptasi ketinggian. Selanjutnya, mereka akan mengarah ke Laila Peak (6.096 m) di Lembah Hushe, salah satu puncak berbentuk jarum yang paling ikonik di Karakoram, sebelum akhirnya bergerak menuju tujuan utama mereka.

Currently, the duo is in Pakistan in a carefully planned acclimatization phase. This week, Česen and Woerle successfully summited Khosar Gang (6,040 m) in the Shigar Valley near Skardu — a peak strategically chosen to build altitude adaptation. Next, they will head to Laila Peak (6,096 m) in the Hushe Valley, one of the most iconic needle-shaped summits in the Karakoram, before finally moving toward their main objective.

Aleš Česen adalah salah satu alpinis paling dihormati saat ini, dengan tiga Piolet d'Or di tangannya — penghargaan bergengsi dunia pendakian alpine. Ia meraihnya pada 2015 untuk first ascent tebing utara Hagshu di Himalaya India, 2019 untuk north ridge Latok I di Karakoram bersama Tom Livingstone dan Luka Stražar, serta 2024 untuk jalur baru di West Ridge Gasherbrum III bersama Tom Livingstone. Woerle, pemandu gunung, pemain ski, dan paraglider dari Austria, pertama kali berkolaborasi dengan Česen di Gasherbrum II pada 2024 — dan keduanya sejak saat itu membangun kemitraan teknis yang solid.

Aleš Česen is one of the most respected alpinists today, holding three Piolet d'Or awards — the most prestigious recognition in the alpine climbing world. He won in 2015 for the first ascent of the north face of Hagshu in the Indian Himalaya, in 2019 for the north ridge of Latok I in the Karakoram with Tom Livingstone and Luka Stražar, and in 2024 for a new route on the West Ridge of Gasherbrum III with Tom Livingstone. Woerle, a mountain guide, skier, and paraglider from Austria, first partnered with Česen on Gasherbrum II in 2024 — and the two have since built a solid technical partnership.

"Khosar Gang adalah puncak yang menarik — tidak hanya sebagai aklimatisasi, tapi juga sebagai petualangan tersendiri. Kami sangat senang bisa memulai musim dengan cara seperti ini."

"Khosar Gang was a great peak — not just for acclimatization, but also as an adventure in itself. We're really happy to be starting the season this way."

— Aleš Česen & Lukas Woerle, melalui laporan ExplorersWeb, Juni 2026via ExplorersWeb report, June 2026

Gasherbrum I, yang juga dikenal sebagai Hidden Peak atau K5, adalah puncak ke-11 tertinggi di dunia. Secara teknis, gunung ini jauh lebih menuntut dibanding tetangganya Gasherbrum II — dengan kemiringan ekstrem dan kondisi cuaca yang tidak menentu di Karakoram yang terkenal kejam. Traverse-nya secara khusus belum pernah diselesaikan secara bersih dalam gaya alpine murni, menjadikan rencana Česen dan Woerle sebagai sebuah lompatan ambisi yang signifikan di dunia pendakian teknis tinggi.

Gasherbrum I, also known as Hidden Peak or K5, is the world's 11th highest peak. Technically, it is far more demanding than its neighbor Gasherbrum II — with extreme steepness and unpredictable weather in the notoriously harsh Karakoram. Its traverse has never been cleanly completed in true alpine style, making Česen and Woerle's plan a significant leap of ambition in the world of high-technical climbing.

Ekspedisi ini menjadi sorotan komunitas pendakian internasional karena berani mengambil jalur yang benar-benar baru secara konseptual — bukan sekadar mengulangi rute standar Japanese Couloir, melainkan merencanakan lintasan dari sisi masuk ke sisi keluar yang berbeda. Bagi komunitas pendaki gunung Indonesia, ini adalah contoh nyata bagaimana persiapan bertahap dan kemitraan yang dibangun selama bertahun-tahun menjadi fondasi untuk misi di batas kemampuan manusia.

This expedition has drawn the attention of the international climbing community for daring to take what is conceptually a truly new path — not simply repeating the standard Japanese Couloir route, but planning a crossing from one entry to a different exit side. For the Indonesian mountaineering community, this is a concrete example of how phased preparation and partnerships built over years become the foundation for missions at the limits of human capability.

Hasil akhir ekspedisi ini akan diketahui dalam beberapa pekan mendatang. Komunitas pendakian dunia — termasuk Indonesia — menantikan kabar dari Karakoram dengan saksama.

The final outcome of this expedition will be known in the coming weeks. The global climbing community — including Indonesia — is watching the Karakoram closely.