Paralayang asal Prancis, Antoine Girard, hanya membutuhkan waktu dua minggu kembali ke Pakistan untuk mencetak rekor dunia baru. Bersama rekan terbangnya, Veso Ovcharov dari Rusia, Girard menyelesaikan penerbangan segitiga FAI (Fédération Aéronautique Internationale) sepanjang 400,5 kilometer di Lembah Hunza pada 16 Juni 2026 — penerbangan segitiga terpanjang yang pernah tercatat dalam sejarah olahraga paralayang lintas alam (cross-country).
French paraglider Antoine Girard needed just two weeks back in Pakistan to set a new world record. Together with his regular flying partner Veso Ovcharov of Russia, Girard completed a 400.5-kilometer FAI (Fédération Aéronautique Internationale) triangle flight over the Hunza Valley on June 16, 2026 — the longest triangle flight ever recorded in cross-country paragliding history.
Kedua pilot tiba di Lembah Hunza, lokasi favorit mereka setiap musim panas, dua minggu sebelum penerbangan rekor tersebut. Mereka langsung menjalani aklimatisasi dengan mendirikan base camp di ketinggian lebih dari 5.500 meter, tepat di kaki Ultar Sar (7.388 m). Selama satu minggu, mereka memadukan penerbangan lintas alam di bawah awan dengan pendakian dan ski touring guna membiasakan tubuh dengan ketinggian ekstrem Karakoram.
The two pilots arrived in the Hunza Valley, their usual summer playground, two weeks before the record flight. They immediately began acclimatizing, setting up a base camp above 5,500 meters at the foot of 7,388m Ultar Sar. For a week, they combined cross-country flights below the clouds with day hiking and ski touring to adjust to the Karakoram's extreme altitude.
Pada hari penerbangan, Girard lepas landas dari Karimabad menggunakan parasut Ozone Zeolite 2, terbang ke barat melintasi puncak-puncak terpencil mendekati perbatasan Afghanistan, lalu berbelok tajam ke arah Gilgit sebelum kembali menuju titik keberangkatan dan melampauinya. Ia berada di udara selama 11 jam 32 menit, melintasi kawasan Shispare, jajaran Batura, Ghamubar Zom, kelompok Thui, hingga Leila Peak dan Rakaposhi dalam perjalanan pulang.
On the day of the flight, Girard took off from Karimabad in an Ozone Zeolite 2, flying west past remote peaks near the Afghanistan border before turning sharply toward Gilgit and heading back over his starting point and beyond. He stayed airborne for 11 hours and 32 minutes, passing Shispare, the Batura range, Ghamubar Zom, the Thui group, and Leila Peak and Rakaposhi on the way back.
Cuaca tidak selalu mendukung. Hujan deras sempat menghentikan laju penerbangan, memaksa Girard mengambil keputusan penting di tengah jalur.
The weather did not always cooperate. Heavy rain interrupted the flight's progress, forcing Girard to make a critical decision mid-route.
"Saya memilih menunggu hujan berlalu, lalu menghindari zona hujan itu. Keputusan ini membuat saya kehilangan hampir satu jam — meninggalkan saya menavigasi termal yang lemah dan tidak teratur setelah badai berlalu — tapi kesabaran akhirnya membayar. Penerbangan ini berakhir dengan segitiga 400 km pertama dan rekor dunia baru di salah satu arena favorit saya!"
"I chose to wait it out and then skirt around the rain zone. While this decision cost me almost an hour — leaving me to navigate very weak and disorganized thermals after the storm passed — patience finally paid off. The flight concluded with the first-ever 400km triangle and a new world record in one of my favorite playgrounds!"
— Antoine Girard, Paralayang lintas alam, PrancisCross-country paraglider, France
Ovcharov yang ikut lepas landas bersama Girard akhirnya mengundurkan diri di tengah penerbangan. Ia mengalami kendala aklimatisasi yang belum sempurna serta masalah baterai pada sarung tangan pemanasnya, ditambah kondisi udara yang menantang pada paruh kedua rute. Meski demikian, Ovcharov memuji ketahanan mental rekannya: ia menyebut Girard sebagai pilot yang sangat berbakat dan secara mental sangat kuat, yang berhasil lolos dari cuaca buruk dan menyelesaikan rute yang telah direncanakan dengan matang.
Ovcharov, who took off alongside Girard, eventually dropped out mid-flight. He struggled with incomplete acclimatization and a glove battery issue, compounded by tough conditions during the second half of the route. Still, Ovcharov praised his partner's mental strength, calling Girard an incredibly talented and mentally strong pilot who managed to escape the bad weather and complete the carefully planned route.
Penerbangan segitiga FAI dikenal sebagai salah satu format tersulit dalam paralayang lintas alam karena pilot harus bermanuver dalam tiga arah berbeda, sering menghadapi angin sakal di salah satu sisi segitiga. Berdasarkan aturan FAI, sisi terpendek segitiga harus minimal 28 persen dari total jarak tempuh, dan jarak antara titik balik terakhir dengan titik awal harus kurang dari 20 persen — memastikan rute benar-benar membentuk putaran, bukan sekadar pergi-pulang.
FAI triangle flights are considered one of the toughest formats in cross-country paragliding, as pilots must maneuver in three different directions, often facing headwinds along one leg of the triangle. Under FAI rules, the shortest leg must be at least 28 percent of the total distance, and the gap between the final turning point and the starting point must be under 20 percent — ensuring the route forms a genuine loop rather than a simple there-and-back run.
Girard bukan nama baru di dunia rekor paralayang Karakoram. Pada 2021, ia menjadi pilot pertama yang terbang melintasi puncak gunung 8.000 meter saat melayang di atas Broad Peak (8.051 m). Penerbangan lintas alam seperti ini kerap berpadu dengan pendakian dan ski, membuka kemungkinan eksplorasi alpine di kawasan terpencil. Namun olahraga ini tetap memiliki risiko tinggi: dua tahun lalu, salah satu anggota tim Girard yang terbang secara independen mengalami kecelakaan fatal di kawasan Baltoro — pengingat bahwa keindahan Karakoram datang berdampingan dengan bahaya nyata di ketinggian.
Girard is no stranger to Karakoram paragliding records. In 2021, he became the first pilot to fly over an 8,000-meter peak when he soared above 8,051m Broad Peak. Cross-country flights like this often combine with climbing and skiing, opening new possibilities for alpine exploration in remote areas. Yet the sport carries real risk: two years ago, a member of Girard's team flying independently suffered a fatal accident in the Baltoro area — a reminder that the Karakoram's beauty comes paired with genuine danger at altitude.