Musim pendakian Everest 2026 resmi ditutup dengan angka yang memecahkan semua rekor sebelumnya: 1.008 hingga 1.010 summit berhasil dicapai — jumlah terbanyak dalam satu musim sepanjang sejarah. Nepal menerbitkan 492 izin kepada pendaki asing, menghasilkan pendapatan hampir $7,2 juta. Secara bisnis, musim ini menjadi yang paling sukses dalam sejarah pendakian komersial Everest.
The 2026 Everest climbing season closed with numbers that shattered all previous records: 1,008 to 1,010 summits — the highest tally in a single season. Nepal issued 492 permits to foreign climbers, generating nearly $7.2 million in revenue. On paper, the season was the most commercially successful in Everest's history.
Namun di balik rekor itu, musim ini juga meninggalkan noda yang sulit dihapus. Antrian panjang di Hillary Step, sampah yang menumpuk di South Col pada ketinggian 8.000 mdpl, dan yang paling mengejutkan: seorang Sherpa bernama Hillary Dawa dibiarkan di atas Camp 3 dan dinyatakan "mustahil diselamatkan." Tujuh hari kemudian, ia ditemukan masih hidup — menyeret dirinya sendiri turun dari gletser.
Behind those records, however, the season left a mark that is hard to erase. Long queues at the Hillary Step, trash piling up at the South Col at 8,000m, and most shockingly: a Sherpa named Hillary Dawa was left above Camp 3 and given up for dead. Seven days later, he was found alive — having dragged himself down the glacier alone.
Kasus Hillary Dawa, bersama dengan kondisi crowding yang memperburuk keselamatan, telah mendorong para Sherpa dan pemandu profesional paling berpengalaman di Everest untuk angkat suara secara kolektif. Mereka tidak sekadar mengeluh — mereka menawarkan solusi konkret.
Hillary Dawa's case, combined with overcrowding conditions that increasingly compromise safety, has prompted Everest's most experienced Sherpa guides and professional expedition leaders to speak out collectively. They are not simply complaining — they are proposing concrete solutions.
"Tahun ini sangat padat dibandingkan tahun lalu. Ada kebutuhan bagi otoritas untuk mengendalikan jumlah ini."
"It was very crowded this year compared to last year. There is a need for authorities to control this number."
— Kami Rita Sherpa, Pemegang rekor 32 summit EverestRecord holder, 32 Everest summits
Kami Rita Sherpa, yang memecahkan rekornya sendiri dengan 32 kali mendaki Everest musim ini, menjadi salah satu suara paling berpengaruh yang menuntut pembatasan jumlah pendaki. Ia menyatakan keprihatinan ini setibanya di Kathmandu — disambut ribuan kamera media. Hingga kini, pihak berwenang Nepal belum menyatakan niat untuk membatasi permit.
Kami Rita Sherpa, who broke his own record with a 32nd Everest summit this season, became one of the most influential voices demanding climber limits. He expressed this concern upon arriving in Kathmandu — greeted by scores of media cameras. To date, Nepali authorities have not signaled any intention to cap permits.
Gelje Sherpa, salah satu pemandu Everest paling dikenal, mengajukan empat proposal konkret: pengalaman summit di ketinggian minimal 6.500 mdpl sebelum boleh mencoba Everest; kualifikasi guiding dan pengalaman ketinggian tinggi wajib bagi setiap Sherpa sebelum memandu klien; pemeriksaan medis wajib di Base Camp dan Camp 2; serta tim penyelamat atau ranger permanen di Camp 2 yang independen dari perusahaan ekspedisi.
Gelje Sherpa, one of Everest's best-known guides, proposed four concrete measures: a mandatory summit on a peak of at least 6,500m before attempting Everest; real guiding qualifications and high-altitude experience required for every Sherpa before guiding clients; mandatory medical checks at Base Camp and Camp 2; and a permanent rescue team or ranger stationed at Camp 2, independent of any expedition company.
Lukas Furtenbach dari Furtenbach Adventures mendukung seruan Gelje. Menurutnya, tidak perlu mensyaratkan puncak 7.000 mdpl di Nepal seperti yang akan diberlakukan mulai 2027 — pengalaman di puncak 6.500 mdpl yang "serius" di mana pun di dunia sudah lebih bermakna daripada sekadar memenuhi kotak administratif. Ia juga menyoroti insiden terakhir musim ini di mana sejumlah pendaki berkeliaran di sekitar Camp 4 mencari oksigen untuk dibeli — tanda bahwa manajemen logistik oksigen perlu diatur secara minimum per orang.
Lukas Furtenbach of Furtenbach Adventures backed Gelje's call. He argued there is no need to require a 7,000m peak in Nepal as of 2027 — experience on a "serious" 6,500m peak anywhere in the world carries more meaning than checking an administrative box. He also highlighted incidents at the end of this season where climbers wandered around Camp 4 looking to buy oxygen — a sign that minimum oxygen management per person must be formally regulated.
Di luar isu keselamatan manusia, Vinayak Malla — pemandu lokal bersertifikat IFMGA — mendokumentasikan kondisi South Col yang kian memprihatinkan. Pada ketinggian hampir 8.000 mdpl, tenda-tenda terbengkalai, tabung oksigen kosong, dan perlengkapan robek bertebaran di permukaan berbatu. "Apa yang seharusnya menjadi salah satu tempat paling luar biasa di planet ini semakin menjadi simbol komersialisasi Everest yang tak terkendali," ujar Malla.
Beyond human safety, Vinayak Malla — an IFMGA-certified local guide — documented the increasingly alarming state of the South Col. At nearly 8,000m, abandoned tents, empty oxygen cylinders, and torn gear litter the rocky ground. "What should be one of the most extraordinary places on the planet has increasingly become a symbol of Everest's growing commercialization," Malla said.
Mingma G Sherpa, veteran yang musim ini memimpin pembukaan jalur alternatif melalui Khumbu Icefall ketika serac berbahaya mengancam jadwal musim, juga berbicara tentang dampak perubahan iklim. Ia melaporkan adanya aliran air di ketinggian 7.000 mdpl (Camp 3), dan menyebut es yang mencair membuat Khumbu Icefall — bagian paling berbahaya dari jalur — semakin berubah menjadi medan berbatu yang paradoksnya lebih mudah dilalui. "Dalam 20–30 menit, kami tiba di titik crampon tanpa harus memanjat es sama sekali," katanya.
Mingma G Sherpa, the veteran who led the opening of an alternative route through the Khumbu Icefall when a dangerous serac threatened the season's schedule, also spoke about climate change impacts. He reported water flowing at 7,000m (Camp 3), and noted that melting ice is paradoxically making the Khumbu Icefall — the most dangerous section of the route — increasingly easier as it retreats to expose rocky ground. "In just 20–30 minutes, we reach the crampon point without climbing any sections of ice," he said.
Musim 2026 juga meninggalkan pertanyaan serius tentang integritas pencatatan rekor. Beberapa klaim pendakian tanpa oksigen dari pendaki dengan pengalaman terbatas diragukan kebenarannya. Penggunaan helikopter dari Camp 2 ke Base Camp oleh pendaki yang sehat secara fisik — yang seharusnya turun jalan kaki melalui Khumbu Icefall — menjadi rahasia umum yang kini mendapat sorotan terbuka. Keselarasan antara rekor bisnis dan kejujuran alpinisme makin sulit dipertahankan.
The 2026 season also raised serious questions about the integrity of record-keeping. Several no-oxygen summit claims from climbers with limited experience have been questioned. The use of helicopters from Camp 2 to Base Camp by physically healthy climbers — who should have descended on foot through the Khumbu Icefall — has become an open secret now receiving direct public scrutiny. Reconciling commercial record-breaking with genuine alpinism integrity is growing harder to sustain.
Para pemandu yang berbicara musim ini bukan sekadar mengeluarkan keluhan. Mereka menawarkan cetak biru yang konkret: standar minimum pengalaman pendaki, kualifikasi wajib Sherpa, pemeriksaan medis sistematis, tim SAR permanen di ketinggian, dan larangan tegas meninggalkan anggota tim. Apakah pemerintah Nepal akan mendengar — atau menunggu tragedi berikutnya — akan menjadi ujian nyata bagi masa depan pendakian Everest.
The guides who spoke out this season are not simply airing grievances. They are offering a concrete blueprint: minimum experience standards for climbers, mandatory Sherpa qualifications, systematic medical checks, permanent high-altitude rescue teams, and a strict no-abandonment protocol. Whether Nepal's government will listen — or wait for the next tragedy — will be the true test of Everest's future.