Dua alpinis elite Ceko, Marek Holecek dan Tomas Petrecek, baru saja tiba di Pakistan untuk mengulang petualangan yang tertunda: membuka jalur baru di Muka Rupal Nanga Parbat (8.125 mdpl). Ini bukan kunjungan pertama mereka — pada 2018, keduanya berjuang keras hingga 7.800 meter selama enam hari di dinding itu sebelum badai angin berkecepatan 100 km/jam memaksa mereka turun, hanya 300 meter di bawah puncak.
Czech elite alpinists Marek Holecek and Tomas Petrecek have just arrived in Pakistan to reprise an unfinished mission: forging a new route up the Rupal Face of 8,125m Nanga Parbat. This is no first visit — in 2018, the pair spent six gruelling days on the face and pushed to 7,800m before hurricane-force winds of 100km/h drove them back, just 300m below the summit.
Muka Rupal adalah salah satu dinding gunung paling dramatis di dunia — tegak lurus setinggi 4.600 meter dari kaki hingga puncak, lebih besar dari Dinding Diamir di sisi berlawanan. Pada upaya 2018, keduanya menargetkan jalur baru di sebelah kanan "Anderson-House Route" (2005), namun cuaca buruk dan salju lebat memaksa mereka bergeser ke variasi jalur Messner 1970 sebelum menemukan baris alami baru melalui dinding berbatu di sebelah kiri Merkl Rinne — sebuah celah terjal yang dipakai keluarga Messner pada pendakian bersejarah 1970.
The Rupal Face is one of the most dramatic mountain walls on earth — a sheer 4,600m rise from base to summit, larger than the Diamir Face on the opposite side. In their 2018 attempt the duo originally targeted a new line to the right of the 2005 Anderson-House Route, but poor weather and heavy snowfall pushed them onto a variation of the 1970 Messner Route before they found a natural line through rocky buttresses to the left of the Merkl Rinne — the steep gully used by the Messner brothers on their historic first ascent.
"Kami sadar ini adalah tugas yang luar biasa berat. Kami merasakan ketegangan, rasa hormat, dan harapan besar — namun sekaligus tidak sabar untuk merasakan keindahan murni dan keunikan pegunungan itu."
"We know that we have an extreme task ahead of us. We feel tension, respect, and huge expectations, but at the same time, we can't wait to experience the raw beauty and uniqueness of the mountains."
— Tomas Petrecek, alpinis, via situs pribadinyaalpinist, via personal website
Keduanya berencana mendaki dalam gaya alpine murni: tanpa kamp tetap yang dipasang lebih awal, tanpa dukungan sherpa di sepanjang rute, dan mengandalkan sepenuhnya pada kecepatan serta keterampilan tim kecil. Holecek adalah salah satu pemenang Piolet d'Or — penghargaan paling bergengsi di dunia pendakian — berkat serangkaian jalur baru di muka-muka Himalaya dan Karakoram yang dilakukannya dalam gaya alpine. Petrecek sendiri bukan orang baru di ekspedisi ekstrem: ia dua kali mencoba puncak Muchu Chhish di rantai Batura, salah satu puncak 7.000-an meter yang paling sulit di Pakistan.
Both climbers plan to ascend in pure alpine style — no pre-placed high camps, no fixed rope throughout the route, relying entirely on the speed and judgement of a small team. Holecek is a multi-time Piolet d'Or laureate — the mountaineering world's highest honour — for a series of new routes on Himalayan and Karakoram faces. Petrecek is equally seasoned: he made two attempts on Muchu Chhish in the Batura range, one of Pakistan's most elusive 7,000m summits.
Perjalanan Holecek tidak selalu tanpa korban. Zdenek Hruby meninggal pada 2013 saat keduanya mencoba jalur baru di Muka Barat Daya Gasherbrum I. Tahun 2024, Ondrej Huserka gugur akibat terjatuh ke celah es setelah menuruni puncak Lantang Lirung yang sangat berbahaya. Rekam jejak ini menjadi pengingat bahwa pendakian gaya alpine di dinding-dinding tertinggi dunia selalu menuntut harga yang tidak dapat sepenuhnya diprediksi sebelumnya.
Holecek's expeditions have not been without tragedy. Zdenek Hruby died in 2013 during their attempt on a new route on the Southwest Face of Gasherbrum I. In 2024, Ondrej Huserka was killed in a crevasse fall after descending the extremely dangerous Lantang Lirung. That record is a sober reminder that alpine-style climbing on the world's highest faces carries risks that cannot be fully calculated in advance.
Holecek dan Petrecek menargetkan kembali ke Eropa pada paruh kedua Agustus 2026. Apakah mereka akan memilih garis yang sama seperti 2018 atau mencoba jalur berbeda belum diumumkan — yang pasti, keduanya berkomitmen pada pendekatan gaya alpine yang telah menjadi ciri khas mereka. Jika berhasil, pendakian ini akan menandai salah satu pencapaian teknis terbesar musim panas Himalaya 2026, dan menutup babak yang terbuka di ketinggian 7.800 meter delapan tahun silam.
Holecek and Petrecek plan to return to Europe in the second half of August 2026. Whether they will follow the same line as in 2018 or attempt a different variation has not yet been announced — what is certain is their commitment to the alpine style that has defined their careers. If they succeed, the climb would rank among the greatest technical achievements of the 2026 Himalayan summer, closing a chapter left open at 7,800m eight years ago.