Tiga pemandu gunung Nepal dan seorang klien asal Amerika Serikat telah berhasil melakukan pendakian pertama Lumbo Himal, sebuah puncak terpencil setinggi 6.250 meter yang terletak di antara Kawasan Konservasi Manaslu dan Rangkaian Pegunungan Ganesh Himal, Nepal. Tim yang terdiri dari Tul Singh Gurung, Sujal Gurung, dan Aash Bahadur Gurung bersama klien Eric Matthew Soo ini mewakili kelompok pemandu Himalayan Summit Club, dan berhasil menapaki puncak pada 22 Juni 2026 lalu.

Three Nepali mountain guides and an American client have completed the first ascent of Lumbo Himal, a remote 6,250-metre peak located between the Manaslu Conservation Area and the Ganesh Himal Range in Nepal. The team — comprising Tul Singh Gurung, Sujal Gurung, and Aash Bahadur Gurung along with client Eric Matthew Soo from Himalayan Summit Club — summited on June 22, 2026.

Lumbo Himal sebelumnya tidak tercatat dalam daftar puncak Himalayan Database, namun namanya muncul dalam daftar 57 puncak baru yang dibuka untuk pendakian oleh Departemen Pariwisata Nepal pada akhir 2024. Kawasan ini jauh dari jalur trekking maupun puncak pendakian populer — tidak ada penginapan atau desa di dekat lokasi base camp, menjadikan ekspedisi ini benar-benar petualangan ke lembah yang belum tersentuh.

Lumbo Himal was not previously listed in the Himalayan Database's peak catalogue, but its name appears on the list of 57 new peaks opened for climbing by Nepal's Department of Tourism in late 2024. The area is far removed from popular trekking routes and climbing destinations — with no lodges or villages nearby — making this a genuine foray into an untouched valley.

Tim membangun base camp di ketinggian 4.150 meter dan high camp di 5.049 meter. Musim muson yang sudah melanda pegunungan Nepal memaksa mereka menunggu beberapa hari hujan sebelum akhirnya mendapat jendela cuaca yang memungkinkan. Pendakian menuju puncak memakan waktu 12 jam dari high camp, sementara perjalanan kembali membutuhkan delapan jam lagi. Jalur southwest face yang mereka tempuh dinilai bergrade D+ dalam skala alpine Prancis — bukan puncak trekking biasa.

The team established base camp at 4,150m and high camp at 5,049m. The monsoon had already arrived in the Nepal mountains, forcing them to wait through several rainy days before a weather window opened. The summit push took 12 hours from high camp, with the descent taking another eight. The southwest face route they established is graded D+ on the French alpine scale — decidedly not a trekking peak.

"Pada malam pendakian, hujan dan salju turun hingga sekitar pukul 02.00 dini hari. Setelah itu cuaca bersih, namun kami masih harus menghadapi angin kencang selama empat jam lagi. Baru kemudian cuaca benar-benar stabil."

"On summit night, it rained and snowed until around 2 am. After that, the weather cleared, but we endured strong winds for four more hours. Then the weather stabilized completely."

— Tul Singh Gurung, Pemimpin Ekspedisi & Direktur National Nepal Mountain Guide AssociationExpedition Leader & Director, National Nepal Mountain Guide Association

Secara teknis, rute yang ditempuh melewati "punggung berbatu yang rapuh, medan campuran, traversal terekspos, retakan gletser, serta seksi salju dan es curam hingga 85 derajat," menurut keterangan Gurung. Tim memasang 400 meter tali tetap pada seksi berbatu yang memerlukan perlindungan tambahan. Bahaya utama yang teridentifikasi adalah rockfall sebelum false summit. Di luar seksi itu, teknik pendakian alpine standar diterapkan.

Technically, the route traversed "loose rocky ridges, mixed terrain, exposed traverses, crevasses, and steep snow and ice sections up to 85 degrees," according to Gurung. The team fixed 400 metres of rope on the rocky technical section requiring additional protection. The main objective hazard identified was rockfall before the false summit. Beyond that section, standard alpine climbing techniques were employed.

Lebih jauh, Gurung — yang juga menjabat Direktur National Nepal Mountain Guide Association — menyebut bahwa lembah tersebut menyimpan potensi besar untuk pendakian masa depan, termasuk akses menuju Lumbo North (6.000 m+), serta puncak-puncak 7.000 meter di kelompok Ganesh: Ganesh II, Ganesh IV, dan Ganesh V. Setelah jalur trekking menuju base camp selesai dibangun oleh pemerintah daerah Dharche Rural Municipality, kawasan ini berpotensi menjadi destinasi alpinisme terpencil yang diminati.

Looking ahead, Gurung — who also serves as Director of the National Nepal Mountain Guide Association — noted the valley holds significant potential for future mountaineering, including access to Lumbo North (6,000m+) and the 7,000m peaks of the Ganesh group: Ganesh II, Ganesh IV, and Ganesh V. Once a trekking trail to base camp is completed by the local Dharche Rural Municipality, the area could become a sought-after remote alpine destination.

Pendakian pertama Lumbo Himal menjadi contoh menarik dari tren komersial pendakian puncak tak terdaki yang semakin berkembang di Nepal. Namun berbeda dari sebagian puncak "first ascent" yang sesungguhnya lebih mudah dari yang terkesan, Lumbo Himal menunjukkan bahwa ada puncak-puncak terpencil yang benar-benar menantang secara teknis, dan layak menjadi sasaran eksplorasi alpinisme sejati.

The first ascent of Lumbo Himal offers an interesting example of the growing trend of guided commercial first ascents in Nepal. Yet unlike some "first ascent" peaks that prove easier than implied, Lumbo Himal demonstrates that there remain genuinely remote and technically demanding summits that merit true alpine exploration.