Puncak Nanga Parbat (8.126 m) di Pakistan disambangi lagi oleh ski ekstrem Polandia, Andrzej Bargiel, yang pada Selasa (30/6) berhasil ski turun langsung dari puncak menuju Base Camp tanpa bantuan oksigen tambahan. Summit sejatinya diperkirakan baru terjadi keesokan harinya, namun tim pemasang tali dari Seven Summit Treks bergerak lebih cepat dari jadwal dan tiba di puncak lebih awal, diikuti dua rombongan klien komersial dan akhirnya Bargiel sendiri.
Nanga Parbat (8,126m) in Pakistan was visited once again by Polish extreme skier Andrzej Bargiel, who on Tuesday (June 30) skied directly from the summit to Base Camp without supplemental oxygen. Summits had been expected the following day, but Seven Summit Treks' rope-fixing team moved ahead of schedule and topped out early, followed by two commercial client groups and finally Bargiel himself.
Bargiel mengaklimatisasi diri akhir pekan lalu di Ganalo Peak (6.608 m), puncak subsider Nanga Parbat, untuk mempelajari jalur ski terbaik dari puncak. Menurut laporan media Nepal yang mengutip operator ekspedisi di Base Camp, pendakiannya berlangsung cepat: dari Kamp 2 ia langsung menuju Kamp 3 di ketinggian sekitar 7.000 m, lalu melanjutkan ke puncak dalam satu hari tanpa oksigen tambahan — sebuah usaha fisik yang berat mengingat jarak dan ketinggian yang harus ditempuh.
Bargiel acclimatized last weekend on 6,608m Ganalo Peak, a subsidiary peak of Nanga Parbat, to study the best ski line down. According to Nepalese media citing expedition outfitters at Base Camp, his climb moved quickly: from Camp 2 he pushed straight to Camp 3 at roughly 7,000m, then continued to the summit in a single push without supplemental oxygen — a demanding physical effort given the distance and altitude involved.
Jika dikonfirmasi oleh timnya, pencapaian ini akan menjadi puncak 8.000 meter kedelapan yang pernah didaki sekaligus di-ski-turuni oleh Bargiel — selalu tanpa oksigen tambahan — dan sekaligus melengkapi seluruh puncak 8.000 meter di Pakistan dalam daftar pencapaiannya. Musim Nanga Parbat tahun ini juga diwarnai ketidakjelasan strategi pendakian dari operator komersial, yang belakangan semakin jarang membagikan detail rencana kepada publik, termasuk soal kondisi jalur Kinshoffer dan keputusan mendadak untuk menyelesaikan summit lebih awal tanpa mendirikan Kamp 4.
If confirmed by his team, this would mark the eighth 8,000m peak Bargiel has both climbed and skied — always without bottled oxygen — and would complete his full set of Pakistani 8,000'ers. This season on Nanga Parbat has also been marked by unclear strategy from commercial outfitters, who have shared fewer details publicly in recent years, including on the state of the Kinshoffer route and a last-minute decision to push for the summit early without establishing Camp 4.
Rekor ski ekstrem tanpa oksigen seperti milik Bargiel menjadi pengingat penting bagi komunitas pendakian tentang batas kemampuan manusia di ketinggian ekstrem, sekaligus menegaskan pentingnya persiapan aklimatisasi matang dan pembacaan medan yang cermat — prinsip yang sama yang terus didorong FMI dalam setiap pembekalan pendaki Indonesia, baik di pegunungan tinggi luar negeri maupun jalur-jalur teknis di dalam negeri.
Oxygen-free extreme ski records like Bargiel's serve as an important reminder to the climbing community of the limits of human performance at extreme altitude, while underscoring the importance of thorough acclimatization and careful terrain reading — the same principles FMI continues to promote in every briefing for Indonesian climbers, whether on high mountains abroad or technical routes at home.