Kabar yang beredar luas di media sosial bahwa jalur pendakian Gunung Merapi akan dibuka kembali untuk umum pada 2 Juli 2026 dipastikan hoaks. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) merilis siaran pers resmi bernomor S.01./T.36/TU/HMS.01.08/06/2026 tertanggal 29 Juni 2026 yang menegaskan pendakian Merapi masih ditutup total sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan. TNGM meminta masyarakat tidak terpancing konten video maupun ajakan mendaki yang tidak jelas sumbernya.
Rumors circulating widely on social media claiming that Mount Merapi's climbing routes would reopen to the public on July 2, 2026 have been confirmed as a hoax. The Mount Merapi National Park authority (TNGM) issued an official press release, number S.01./T.36/TU/HMS.01.08/06/2026 dated June 29, 2026, stating that climbing on Merapi remains fully closed until further notice. TNGM urged the public not to be misled by videos or climbing invitations from unverified sources.
Penutupan ini bukan kebijakan baru. Pendakian Gunung Merapi sudah tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018, ketika statusnya naik dari Normal (Level I) ke Waspada (Level II). Status kemudian dinaikkan lagi menjadi Siaga (Level III) pada 5 November 2020 dan belum pernah diturunkan hingga kini. Data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode 19–25 Juni 2026 menunjukkan aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi dengan karakteristik erupsi efusif, dan suplai magma yang terus berlangsung dapat memicu awan panas guguran sewaktu-waktu.
The closure is not a new policy. Climbing on Merapi has been off-limits since May 22, 2018, when its status was raised from Normal (Level I) to Advisory (Level II). The status was then elevated to Alert (Level III) on November 5, 2020 and has never been lowered since. Data from Indonesia's geological hazard agency BPPTKG for the June 19–25, 2026 monitoring period shows volcanic activity remains high with effusive eruption characteristics, and the ongoing magma supply could trigger pyroclastic flows at any time.
Daerah potensi bahaya meliputi aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer di sektor selatan-barat daya, ditambah Sungai Woro (3 km) dan Gendol (5 km) di sektor tenggara. Seluruh pos jalur pendakian via New Selo, Boyolali, berada dalam zona merah — dari Pintu Gerbang di jarak 2,3 km hingga Pasar Bubrah yang hanya 0,7 km dari puncak. Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak. Wisata terbatas di area aman seperti OWA Kalitalang, yang berada 3,3 km dari kawasan puncak, tetap dibuka.
The danger zone covers the Boyong River drainage up to 5 kilometers and the Bedog, Krasak, and Bebeng rivers up to 7 kilometers in the south-southwest sector, plus the Woro (3 km) and Gendol (5 km) rivers to the southeast. Every post along the New Selo route in Boyolali sits inside the red zone — from the entrance gate at 2.3 km to Pasar Bubrah, just 0.7 km from the summit. All activity within a 3-kilometer radius of the crater is prohibited. Limited tourism in safe areas such as OWA Kalitalang, located 3.3 km from the summit zone, remains open.
Bagi komunitas mountaineering Indonesia, kasus ini menjadi pengingat penting: selalu verifikasi status jalur pendakian melalui kanal resmi pengelola taman nasional atau otoritas vulkanologi sebelum berangkat, bukan dari video viral. Mendaki gunung berstatus Siaga secara ilegal bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga tim SAR yang harus melakukan evakuasi di zona bahaya erupsi. Masih banyak gunung lain yang aman dan resmi dibuka untuk mengisi musim pendakian Juli ini.
For Indonesia's mountaineering community, this case is an important reminder: always verify trail status through official national park or volcanology channels before setting out — not from viral videos. Illegally climbing a volcano on Alert status endangers not only the climber but also the SAR teams who would have to conduct evacuations inside an eruption danger zone. Plenty of other mountains are safely and officially open for this July climbing season.