Nama Don Hasman mungkin lebih dikenal luas di kalangan fotografer ketimbang pendaki gunung. Namun bagi dunia mountaineering Indonesia, sosok kelahiran 1940 ini memiliki tempat khusus: ia adalah salah satu perintis yang membawa nama Indonesia ke jalur pendakian dunia, sekaligus pendiri Federasi Mountaineering Indonesia (FMI).
Don Hasman's name may be better known in photography circles than among mountaineers. Yet for Indonesian mountaineering, this man born in 1940 holds a singular place: he is one of the pioneers who carried Indonesia's name onto the world's climbing routes, and the founder of the Indonesian Mountaineering Federation (FMI).
Berawal dari Kamera Kakak
It Began with a Brother's Camera
Perjalanan Don Hasman dengan dunia visual dimulai jauh sebelum ia menjelajah pegunungan. Pada 1951, di usia 11 tahun, ia pertama kali memotret menggunakan kamera Voigtländer milik kakaknya. Rasa penasaran terhadap "ide menghentikan waktu" lewat foto itulah yang kemudian tumbuh menjadi kecintaan seumur hidup pada fotografi dan eksplorasi.
Don Hasman's journey into the visual world began long before he ever set foot on a mountain. In 1951, at age 11, he took his first photographs using his brother's Voigtländer camera. That curiosity about the "idea of stopping time" through an image would grow into a lifelong love of photography and exploration.
Jejak Langkah di Pegunungan Dunia
Footprints Across the World's Mountains
Karier petualangnya di Himalaya dimulai jauh sebelum era pendaki Indonesia modern. Pada 1968, ia telah mencapai ketinggian sekitar 6.150 mdpl di Gunung Nuptse — puncak masif di barisan Khumbu yang bertetangga langsung dengan Everest. Kemudian pada 1976, bersama dua rekannya, Don menempuh perjalanan darat selama lebih dari tiga bulan dari London melewati Prancis, Swiss, Italia, Yugoslavia, Yunani, Turki, Iran, Afghanistan, dan Pakistan sebelum akhirnya tiba di India dan meneruskan perjalanan ke Nepal. Ekspedisi panjang itu menjadikannya salah satu orang Indonesia pertama yang mencapai kawasan Everest Base Camp, jauh sebelum pendaki Indonesia lain menjejakkan kaki di puncak tertinggi dunia itu pada dekade-dekade berikutnya.
His Himalayan adventures began long before the era of modern Indonesian climbers. In 1968, he reached approximately 6,150m on Nuptse — the massive peak in the Khumbu range standing directly beside Everest. Then in 1976, together with two companions, Don undertook an overland journey lasting more than three months: from London through France, Switzerland, Italy, Yugoslavia, Greece, Turkey, Iran, Afghanistan, and Pakistan before reaching India and continuing on to Nepal. That epic overland journey made him one of the first Indonesians to reach the Everest Base Camp area, long before other Indonesian climbers would summit the world's highest peak in the decades that followed.
Tak berhenti di Himalaya, pada 1985 sebagai bagian dari ekspedisi Jayagiri, ia berhasil mendaki Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, Afrika — salah satu dari Tujuh Puncak Benua. Semangat petualangnya juga membawanya menempuh rute ziarah Camino de Santiago sejauh 1.000 kilometer, berjalan kaki dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga Katedral Santiago de Compostela di Spanyol.
Beyond the Himalayas, in 1985 as part of the Jayagiri expedition, he successfully climbed Kilimanjaro (5,895m) in Tanzania — one of the Seven Summits. His adventurous spirit also led him to walk the Camino de Santiago pilgrimage route, covering 1,000 kilometers on foot from Saint-Jean-Pied-de-Port in France to the Cathedral of Santiago de Compostela in Spain.
Pendiri Federasi Mountaineering Indonesia
Founder of the Indonesian Mountaineering Federation
Di balik pengalaman panjangnya menjelajah gunung-gunung dunia, Don Hasman dikenal sebagai pendiri Federasi Mountaineering Indonesia (FMI). Perannya ini menegaskan kontribusinya bukan hanya sebagai individu yang berprestasi, tetapi juga sebagai pembangun institusi yang mewadahi dan membina generasi pendaki Indonesia berikutnya.
Behind his long record of mountain exploration, Don Hasman is recognized as the founder of the Indonesian Mountaineering Federation (FMI). This role underscores his contribution not merely as an accomplished individual, but as an institution builder who created a home for future generations of Indonesian climbers.
Kisahnya yang paling sering dikenang adalah pertemuannya dengan Sir Edmund Hillary pada 2004 di Golden Ballroom Hotel Waldorf Astoria, New York City — dalam rangka peringatan 100 tahun berdirinya The Explorers Club. Acara bergengsi itu dihadiri 1.600 undangan dari 60 negara, termasuk Don yang dimasukkan dalam kelompok delegasi Amerika Serikat meski mewakili Indonesia. Di antara para tamu hadir pula astronot Buzz Aldrin. Don berkesempatan memotret sekaligus berbincang langsung dengan Sir Edmund Hillary, dan melontarkan pertanyaan yang telah lama menjadi perdebatan dunia pendakian: siapa yang sesungguhnya lebih dulu menginjakkan kaki di puncak Everest, Hillary atau Tenzing Norgay? Hillary menjawab dengan diplomatis bahwa keduanya tiba bersamaan — jawaban yang menurut Don menyiratkan bahwa cerita sesungguhnya mungkin tak sepenuhnya terungkap. Kisah ini ia bagikan kembali dalam webinar "Pariwisata Gunung Berkelanjutan" pada Mei 2021.
His most often retold story is his encounter with Sir Edmund Hillary in 2004 at the Golden Ballroom of the Waldorf Astoria Hotel in New York City — during the 100th anniversary celebration of The Explorers Club. The prestigious event drew 1,600 guests from 60 countries; Don was placed in the U.S. delegation group despite representing Indonesia. Among the guests was astronaut Buzz Aldrin. Don had the opportunity to photograph and speak directly with Sir Edmund Hillary, posing the question that has long stirred debate in the climbing world: who truly set foot on Everest's summit first, Hillary or Tenzing Norgay? Hillary answered diplomatically that they arrived together — a response Don felt hinted that the full story may never be told. He recounted this meeting at the "Sustainable Mountain Tourism" webinar in May 2021.
Ethnofotografi dan Suku Baduy
Ethnophotography and the Baduy People
Selain jejaknya di gunung-gunung dunia, karya Don Hasman yang paling monumental justru berada lebih dekat ke rumah: dokumentasi budaya masyarakat Baduy — khususnya kelompok inti Tangtu Tilu — di Jawa Barat. Dengan pendekatan ethnofotografi, ia telah melakukan 657 kunjungan ke wilayah Baduy sejak 1975, sebuah dedikasi tanpa henti selama 51 tahun yang dirangkum dalam buku Urang Kanekes: Baduy People yang terbit pada 2013. Ia mengaku sempat memotret kawasan Baduy Dalam secara diam-diam, namun tetap memegang teguh prinsip untuk tidak mempublikasikan foto-foto dari area yang dianggap terlarang tersebut — sebuah bentuk penghormatan terhadap adat yang ia jaga sepanjang kariernya.
Beyond his mountain exploits, Don Hasman's most monumental body of work lies closer to home: his documentation of the Baduy people of West Java — in particular the innermost community known as the Tangtu Tilu. Through an ethnophotographic approach, he has made 657 visits to the Baduy territories since 1975, an unbroken dedication spanning 51 years, compiled into the book Urang Kanekes: Baduy People, published in 2013. He admitted to having once photographed the Inner Baduy area discreetly, yet steadfastly refused to publish any images from areas considered sacred — a form of respect for adat tradition he upheld throughout his career.
Hingga usia senjanya, semangat Don Hasman untuk terus memotret dan berpetualang tak pernah surut. "Selama saya bisa jalan dan mengangkat kamera, saya akan selalu memotret," ujarnya — kalimat yang mencerminkan filosofi hidupnya: bahwa rasa ingin tahu dan kecintaan pada perjalanan tidak mengenal batas usia. Sebagai pendiri Federasi Mountaineering Indonesia, fotografer ethnofotografi, sekaligus penjelajah yang telah menyentuh Himalaya, Kilimanjaro, hingga jalur ziarah di Eropa, Don Hasman meninggalkan warisan yang melampaui satu bidang saja. Ia adalah bukti nyata bahwa dunia mountaineering Indonesia dan dunia dokumentasi budaya bisa berjalan beriringan dalam satu perjalanan hidup.
Eve