Sidang Umum International Climbing and Mountaineering Federation (UIAA) tahun 2026 akan berlangsung di Kathmandu, Nepal, pada 29–31 Oktober. Nepal Mountaineering Association (NMA) bertindak sebagai tuan rumah. Beberapa hari sebelumnya, pada 27–29 Oktober di kota yang sama, digelar UIAA Mountain Sports Symposium edisi ketiga yang kali ini memusatkan perhatian pada pendaki dan pemanjat usia muda.

The 2026 General Assembly of the International Climbing and Mountaineering Federation (UIAA) will take place in Kathmandu, Nepal, on 29–31 October. The Nepal Mountaineering Association (NMA) serves as host. A few days earlier, on 27–29 October in the same city, the third edition of the UIAA Mountain Sports Symposium will be held, with this edition focusing on youth and young climbers.

Bagi banyak pendaki Indonesia, nama UIAA lebih sering dikenal lewat label pada peralatan ketimbang lewat organisasinya. Padahal badan inilah yang menyusun standar tersebut. UIAA didirikan pada Agustus 1932 di Chamonix, Prancis, ketika dua puluh asosiasi pendakian bertemu dalam sebuah kongres alpine. Count Charles Egmond d'Arcis dari Swiss terpilih sebagai presiden pertama, dengan mandat organisasi yang dirumuskan sebagai kajian dan penyelesaian seluruh persoalan menyangkut mountaineering. Kantor pusatnya berada di Bern, Swiss, dan sejak 1995 UIAA diakui oleh Komite Olimpiade Internasional.

For many Indonesian climbers, the UIAA is better known through the label on their equipment than through the organization itself. Yet it is this body that sets those standards. The UIAA was founded in August 1932 in Chamonix, France, when twenty mountaineering associations met at an alpine congress. Count Charles Egmond d'Arcis of Switzerland was chosen as its first president, with the organization's mandate framed as the study and solution of all problems regarding mountaineering. Its headquarters sit in Bern, Switzerland, and the UIAA has been recognized by the International Olympic Committee since 1995.

Salah satu warisan paling nyata UIAA adalah UIAA Safety Label, yang dibuat pada 1960 dan memperoleh pengakuan internasional pada 1965. Label ini menjadi acuan mutu bagi tali, carabiner, helm, dan perangkat pengaman lain yang beredar di pasar dunia. Di luar urusan peralatan, UIAA menaungi sejumlah komisi yang bekerja pada bidang spesifik — mulai dari keselamatan, kedokteran gunung, pelatihan, perlindungan kawasan pegunungan, hingga urusan hukum dan anti-doping. Komisi medisnya menerbitkan sejumlah makalah rujukan tentang kesehatan di ketinggian yang kerap dipakai lintas negara.

Among the UIAA's most tangible legacies is the UIAA Safety Label, created in 1960 and internationally approved in 1965. The label serves as a quality benchmark for ropes, carabiners, helmets, and other protective equipment on the global market. Beyond equipment, the UIAA oversees a number of commissions working in specific fields — safety, mountain medicine, training, mountain protection, legal affairs, and anti-doping. Its medical commission publishes reference papers on high-altitude health that are widely used across countries.

Sidang Umum sendiri merupakan pertemuan terbesar dan terpenting dalam kalender UIAA, mempertemukan federasi anggota, komisi, perwakilan, dan mitra. Di forum inilah keputusan-keputusan kunci organisasi diambil. Gambaran skalanya terlihat dari Sidang Umum 2025 di Peja, Kosovo, yang menurut NMA dihadiri 104 perwakilan dari 94 asosiasi anggota di 73 negara.

The General Assembly is the largest and most important gathering in the UIAA calendar, bringing together member federations, commissions, representatives, and partners. It is where the organization's key decisions are made. Its scale is illustrated by the 2025 General Assembly in Peja, Kosovo, which according to the NMA drew 104 representatives from 94 member associations across 73 countries.

Penunjukan Kathmandu membawa forum ini kembali ke kawasan Himalaya. Nepal telah menjadi anggota aktif UIAA sejak 1975 melalui NMA, organisasi yang berdiri pada 1973. Kathmandu juga bukan kota asing bagi UIAA: pada Oktober 1982 kota tersebut menjadi tempat Sidang Umum ke-44 sekaligus peringatan lima puluh tahun berdirinya organisasi, yang melahirkan dokumen Kathmandu Declaration on Mountain Activities.

Choosing Kathmandu returns the forum to the Himalayan region. Nepal has been an active UIAA member since 1975 through the NMA, an organization established in 1973. Kathmandu is also familiar ground for the UIAA: in October 1982 the city hosted the 44th General Assembly alongside the federation's fiftieth anniversary, producing the Kathmandu Declaration on Mountain Activities.

Bagi komunitas pendaki di Indonesia, agenda Kathmandu menjadi penanda bahwa forum tata kelola pendakian dunia berlangsung di kawasan yang secara geografis relatif dekat. Indonesia sendiri terwakili di UIAA melalui Federasi Panjat Tebing Indonesia, yang tercatat sebagai anggota aktif sejak 2016.

For the climbing community in Indonesia, the Kathmandu agenda marks a global mountaineering governance forum taking place in a geographically close region. Indonesia itself is represented at the UIAA through the Federasi Panjat Tebing Indonesia, recorded as an active member since 2016.