Ketua Umum PB FMI, Mayjen Mar (Purn.) Buyung Lalana, membagikan panduan menikmati dua destinasi alam Indonesia yang berbeda karakter: Gunung Kerinci di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat, serta Green Canyon Pangandaran di Jawa Barat. Keduanya sama-sama menuntut kesiapan dan kewaspadaan, meski dengan bentuk tantangan yang berbeda.

Gunung Kerinci berdiri sebagai puncak tertinggi di Pulau Sumatera sekaligus gunung berapi tertinggi di Indonesia, dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut. Gunung ini berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Jalur pendakian paling populer adalah via Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci, Jambi, ditempuh normal dua hari satu malam dengan jarak sekitar 10,5 kilometer yang hampir seluruhnya menanjak.

Simaksi (surat izin masuk kawasan) dikenakan Rp15.000 per orang per hari, sementara jasa pemandu berkisar Rp500.000 hingga Rp700.000 per kelompok. Perjalanan terbagi dalam beberapa pos: Pos 1 sekitar 1,5 jam melewati hutan pinus, Pos 2 juga 1,5 jam sebagai sumber air terakhir, dan Pos 3 ditempuh dua jam sebagai area perkemahan paling ramai. Dari Shelter 3 menuju puncak dibutuhkan tiga hingga empat jam melewati medan pasir dan bebatuan; sebagian besar pendaki berangkat pukul satu hingga dua pagi agar tiba di puncak saat matahari terbit.

Di puncak, pendaki disuguhi kawah aktif yang mengeluarkan belerang, pemandangan Danau Kerinci, dan lautan awan di pegunungan Bukit Barisan. Suhu puncak bisa turun hingga 5 derajat Celsius; jaket tebal, tenda, carrier, dan obat-obatan P3K wajib dibawa. Musim terbaik adalah Juni hingga Agustus ketika trek tidak becek. Pengelola TNKS mewajibkan pemakaian pemandu, termasuk untuk kewaspadaan terhadap harimau Sumatera, dan pendaki disarankan melatih kebugaran setidaknya satu bulan sebelumnya.

Berbeda dengan Kerinci, Green Canyon Pangandaran menyimpan nama asli Cukang Taneuh, yang berarti “jembatan tanah”. Julukan Green Canyon lahir karena air sungainya yang hijau toska dan dinding tebing yang dianggap mirip ngarai di Arizona. Terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, sekitar 30 menit dari Pantai Pangandaran, kawasan ini buka setiap hari pukul 07.00 hingga 17.00 dengan perahu terakhir pukul 15.30. Tiket masuk Rp20.000 per orang, dan sewa perahu Rp150.000 hingga Rp200.000 untuk lima hingga enam orang — bisa dipatok bersama.

Aktivitas di Cukang Taneuh meliputi menyusuri sungai dengan perahu, body rafting, masuk ke gua, hingga berhenti di air terjun. Waktu terbaik adalah pagi hari ketika air paling hijau dan antrean sepi; saat musim kemarau seperti pada Agustus ini, air lebih jernih dan hijaunya semakin pekat. Pengunjung wajib memakai pelampung yang sudah termasuk biaya sewa perahu, disarankan membawa sandal gunung dan baju ganti, serta menyimpan ponsel dalam kantong kedap air. Bagi yang berangkat dari Pangandaran, paket open trip tersedia mulai Rp200.000 hingga Rp250.000 per orang, termasuk transportasi pulang-pergi, tiket, perahu, pemandu, dan satu kali makan.

Dua destinasi ini menunjukkan kekayaan alam Nusantara yang berbeda — satu menantang fisik di ketinggian, satu menenangkan di lembah sungai. Informasi ini dibagikan langsung oleh Ketua Umum PB FMI sebagai bekal bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan alam Indonesia dengan aman dan siap.

FMI's Chairman, Maj. Gen. (Ret.) Buyung Lalana, shares a guide to two Indonesian natural destinations of contrasting character: Mount Kerinci on the Jambi–West Sumatra border, and Green Canyon Pangandaran in West Java. Both demand readiness and vigilance, albeit through different forms of challenge.

Mount Kerinci stands as the highest peak on the island of Sumatra and the highest volcano in Indonesia, at 3,805 meters above sea level, within Kerinci Seblat National Park (TNKS). The most popular route is via Kersik Tuo, Kerinci Regency, Jambi, normally climbed in two days and one night over roughly 10.5 kilometers that are almost entirely uphill.

The entrance permit (simaksi) costs IDR 15,000 per person per day, while guide services range from IDR 500,000 to IDR 700,000 per group. The journey is divided into posts: Post 1 in about 1.5 hours through pine forest, Post 2 also in 1.5 hours as the last water source, and Post 3 in two hours as the busiest camping area. From Shelter 3 to the summit takes three to four hours over sand and rock; most climbers depart between one and two in the morning to reach the summit at sunrise.

At the summit, climbers are rewarded with an active crater emitting sulfur, views of Lake Kerinci, and the sea of clouds over the Bukit Barisan mountains. Temperatures can drop to 5 degrees Celsius; a thick jacket, tent, carrier, and first-aid kit are mandatory. The best season is June to August, when the trail stays dry. TNKS management requires climbers to use a guide, including for vigilance against the Sumatran tiger, and climbers are advised to train their fitness for at least a month beforehand.

In contrast to Kerinci, Green Canyon Pangandaran holds the original name Cukang Taneuh, meaning “earthen bridge.” The Green Canyon nickname comes from its turquoise-green water and cliff walls likened to Arizona canyons. Located in Kertayasa Village, Cijulang District, about 30 minutes from Pangandaran Beach, the area is open daily from 7 a.m. to 5 p.m., with the last boat at 3:30 p.m. Entry is IDR 20,000 per person, and boat rental runs IDR 150,000 to IDR 200,000 for five to six people — sharable.

Activities at Cukang Taneuh include river cruises by boat, body rafting, exploring caves, and stopping at a waterfall. The best time is in the morning, when the water is greenest and queues are quiet; during the dry season such as this August, the water is clearer and its green hue more intense. Visitors must wear life jackets, already included in the boat fee, are advised to bring sturdy sandals and a change of clothes, and to keep phones in waterproof pouches. For those departing from Pangandaran, open trip packages start at IDR 200,000 to IDR 250,000 per person, including round-trip transport, entry, boat, guide, and one meal.

These two destinations show Indonesia's natural wealth in contrasting forms — one testing the body at altitude, one soothing by the riverside. This information is shared directly by FMI's Chairman as preparation for the public to enjoy Indonesia's natural beauty safely and responsibly.