Pengurus Provinsi Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) Maluku menggelar Sharing Session Dies Natalis FMI ke-21 di Kedai Folk, Jalan Ir. M. Putuhena, Poka, Teluk Ambon, Jumat 18 September 2026. Acara bertema “Zero Waste, Zero Accident” itu mempertemukan pengurus, pendaki, dan tim penyelamat untuk membahas dua hal yang berjalan beriringan di jalur gunung: sampah yang tertinggal di kawasan alam dan risiko kecelakaan yang mengintai pendaki.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Umum FMI Maluku Nasir Rumra, lalu dilanjutkan sesi berbagi pengalaman bersama Handoko, pendaki Seven Summits Indonesia asal Maluku yang kini menjabat Dewan Penasihat FMI Maluku, dan Adriano S. Tuhuleruw dari Rescue Kantor SAR Ambon. Sekretaris Umum FMI Maluku M. Jaya Barends memandu jalannya diskusi.
Menurut Nasir Rumra, tema itu menekankan dua aspek yang saling berkaitan dalam aktivitas alam bebas, yaitu kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan manusia. “Konsep Zero Waste mengajak para pendaki untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan selama perjalanan,” ujarnya. Penerapannya dimulai dari mengurangi kemasan sekali pakai, membawa perlengkapan yang dapat digunakan kembali, mengatur logistik secara bijak, sampai memastikan seluruh sampah dibawa turun dan tidak ditinggalkan di kawasan alam.
Prinsip Zero Accident menempatkan keselamatan sebagai prioritas sejak sebelum perjalanan dimulai. Nasir menekankan kesiapan fisik dan mental, pemahaman karakter medan dan kondisi cuaca, perlengkapan yang sesuai, perencanaan perjalanan, serta penguasaan langkah penanganan keadaan darurat dan prosedur evakuasi. “Kegiatan diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman dan diskusi mengenai pentingnya keselamatan serta kepedulian terhadap lingkungan dalam aktivitas pendakian dan kegiatan alam bebas,” katanya.
Dalam sesi diskusi, Handoko menyebut FMI Maluku mendorong terbentuknya budaya pendakian yang bertanggung jawab dan berencana menyelenggarakan Sekolah Pendaki Gunung (SPG). “Keberhasilan sebuah perjalanan tidak hanya diukur dari tercapainya tujuan pendakian, tetapi juga dari kemampuan setiap pendaki menjaga kelestarian alam, meminimalkan risiko kecelakaan, serta bertanggung jawab terhadap keselamatan diri dan anggota tim,” ujarnya.
Handoko juga membagikan wawasan soal persiapan sebelum pendakian, pengelolaan risiko, kesiapan menghadapi kondisi darurat, hingga pentingnya komunikasi dan koordinasi dalam tim. Pendaki yang menuntaskan rangkaian Seven Summits Indonesia di Puncak Mahameru, Gunung Semeru, pada 27 September 2017 itu tercatat sebagai pendaki kedua asal Maluku yang menyelesaikan rangkaian tersebut. Ia mengajak peserta membangun kebiasaan mendaki yang lebih bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, serta mengutamakan keselamatan diri dan tim.
Acara ditutup dengan pemberian doorprize kepada peserta dengan pertanyaan terbaik sebagai bentuk apresiasi atas keaktifan selama sesi diskusi. Doorprize diserahkan Ketua Umum FMI Maluku Nasir Rumra, Ketua Harian FMI Maluku Budi Herman, dan Dewan Penasihat FMI Maluku Handoko.
The Maluku Provincial Board of the Indonesian Mountaineering Federation (FMI) held a Sharing Session for FMI's 21st Anniversary at Kedai Folk, Jalan Ir. M. Putuhena, Poka, Teluk Ambon, on Friday, September 18, 2026. Carrying the theme “Zero Waste, Zero Accident”, the event brought together board members, climbers, and rescuers to discuss two issues that go hand in hand on the mountain trail: waste left behind in natural areas and the risk of accidents facing climbers.
The session opened with remarks by FMI Maluku Chair Nasir Rumra, followed by an experience-sharing session with Handoko, a Seven Summits Indonesia climber from Maluku who now serves on the FMI Maluku Advisory Board, and Adriano S. Tuhuleruw of the Ambon SAR Office Rescue team. FMI Maluku General Secretary M. Jaya Barends moderated the discussion.
According to Nasir Rumra, the theme highlights two interconnected aspects of outdoor activity: care for the environment and human safety. “The Zero Waste concept invites climbers to take greater responsibility for the waste produced during a trip,” he said. In practice, it starts with reducing single-use packaging, carrying reusable equipment, managing logistics wisely, and making sure all waste is carried back down and not left behind in natural areas.
The Zero Accident principle places safety as a priority from before a trip begins. Nasir stressed physical and mental readiness, an understanding of terrain character and weather conditions, suitable equipment, trip planning, and mastery of emergency response measures and evacuation procedures. “The activity is expected to become a space for sharing experiences and discussing the importance of safety and environmental care in climbing and outdoor activities,” he said.
During the discussion, Handoko said FMI Maluku is encouraging the growth of a responsible climbing culture and plans to hold a Mountaineering School (Sekolah Pendaki Gunung/SPG). “The success of a journey is measured not only by reaching the climbing objective, but also by each climber's ability to preserve nature, minimise accident risk, and take responsibility for the safety of themselves and their team members,” he said.
Handoko also shared insights on preparation before a climb, risk management, readiness for emergency conditions, and the importance of communication and coordination within a team. The climber who completed the Seven Summits Indonesia series at the summit of Mount Semeru on September 27, 2017, is recorded as the second climber from Maluku to finish the series. He invited participants to build the habit of climbing more responsibly, caring for the environment, and prioritising the safety of themselves and their team.
The event closed with door prizes for participants who asked the best questions, as appreciation for their active engagement during the discussion. The prizes were presented by FMI Maluku Chair Nasir Rumra, FMI Maluku Daily Chair Budi Herman, and FMI Maluku Advisory Board member Handoko.