JAKARTA, Berita FMI - Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) DKI Jakarta kembali menggelar Wilderness First Aid (WFA) Batch 3 pada Sabtu, 17 Oktober 2026 di Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta Selatan. Kegiatan bertema "Tidak Ada Kondisi Darurat Selama Kita Siap" itu terbuka bagi anggota maupun masyarakat yang beraktivitas di alam bebas, dengan kuota maksimal 40 peserta.
Peserta akan menerima materi penilaian kondisi korban, penanganan cedera dan kondisi medis, stabilisasi korban, hingga pertimbangan dalam proses evakuasi. Sesi praktik dan simulasi skenario lapangan disiapkan untuk menguji kemampuan menerapkan pertolongan pertama pada kondisi yang menyerupai situasi nyata.
Ketua Pelaksana WFA Batch 3, Abdul Qahhar Amal, menilai kemampuan Wilderness First Aid tidak hanya berkaitan dengan pemberian pertolongan. Menurutnya, yang sama penting adalah cara mengambil keputusan secara tepat, aman, dan terukur ketika kondisi darurat benar-benar terjadi di lapangan.
Pelatihan semacam ini dinilai relevan karena akses terhadap bantuan medis profesional di alam terbuka tidak selalu bisa diperoleh dengan cepat. Jarak, cuaca, dan medan menjadi faktor yang menentukan seberapa cepat pertolongan lanjutan bisa dijangkau, sehingga keputusan awal di lokasi kejadian memegang peranan besar.
Melalui kegiatan ini, FMI DKI Jakarta berharap kesiapsiagaan dan kesadaran keselamatan para pelaku kegiatan alam bebas meningkat. Penyelenggaraan WFA disebut sejalan dengan komitmen organisasi menjalankan misi Zero Waste dan Zero Accident.
WFA Batch 3 melanjutkan rangkaian pelatihan angkatan sebelumnya. Bagi pendaki dan pegiat alam bebas, penyelenggaraan rutin seperti ini menjadi salah satu jalur paling praktis untuk memelihara keterampilan pertolongan pertama tanpa harus menunggu insiden terjadi lebih dulu.
JAKARTA, Berita FMI - The Jakarta chapter of the Indonesian Mountaineering Federation (FMI) is holding Wilderness First Aid (WFA) Batch 3 on Saturday, October 17, 2026, at Universitas Trilogi in Kalibata, South Jakarta. Carrying the theme "No Emergency Exists While We Are Prepared", the course is open to members and to the wider public active in the outdoors, with a maximum of 40 participants.
Participants will cover casualty assessment, the management of injuries and medical conditions, casualty stabilisation, and the considerations involved in evacuation. Practical sessions and field-scenario simulations are designed to test how well participants apply first aid in conditions resembling real situations.
Abdul Qahhar Amal, chair of the WFA Batch 3 organising committee, said wilderness first aid is not only about delivering aid. In his view, equally important is the ability to make decisions that are appropriate, safe, and measured when an emergency actually unfolds in the field.
Such training is seen as relevant because access to professional medical help in the outdoors cannot always be obtained quickly. Distance, weather, and terrain determine how soon follow-up care can be reached, which places a heavy weight on the initial decisions taken at the scene.
Through the course, FMI Jakarta hopes to raise the preparedness and safety awareness of people who spend time in the outdoors. The organisers describe the WFA as being in line with the organisation's commitment to its Zero Waste and Zero Accident mission.
WFA Batch 3 continues the series of previous intakes. For climbers and outdoor enthusiasts, regularly scheduled courses of this kind are among the most practical ways to keep first aid skills current without waiting for an incident to happen first.