JAKARTA, Berita FMI - Nama Sispala, ekstrakurikuler siswa pecinta alam, sering muncul bersama berita buruk. Stigma itu bukan tanpa sebab. Pada 2014, seorang siswa SMA Negeri 3 Jakarta meninggal setelah mengikuti pelatihan pecinta alam.

Arfiand Caesar Al Irhami, 16 tahun, meninggal pada 20 Juni 2014 dalam kegiatan di Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Polisi menemukan luka lebam dan menduga ada penganiayaan. Pada Maret 2015, dua alumni sekolah itu divonis satu tahun penjara. Hakim menyebut perbuatan mereka merusak citra pecinta alam.

Kasus itu memukul kegiatan Sispala di Jakarta. Pemerintah Provinsi menerbitkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 179 Tahun 2015 yang membatasi kegiatan ekstrakurikuler, termasuk melarang kegiatan pecinta alam di luar kota. Dinas Pendidikan mengeluarkan surat edaran senada. Antara 2015 dan 2018, Sispala Jakarta mundur. Sebagian sekolah memilih menutup kegiatannya.

Dari situlah Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) Jakarta lahir pada 10 Juli 2018. Organisasi nirlaba ini dibentuk karena keresahan atas pembatasan kegiatan luar ruang. Perannya mendampingi, membina, dan mengawasi ekstrakurikuler Sispala di SMA, SMK, dan MA.

Jalur pembinaan kembali terbuka lewat Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 56 Tahun 2019. Fasta menyusun kode etik pecinta alam, standar operasional kegiatan, dan jalur komunikasi antara siswa, guru, orang tua, dan alumni. Tujuannya satu: kegiatan alam bebas berjalan tanpa kekerasan.

Pada Mei 2025, Adjie Rimbawan terpilih kembali sebagai Ketua Fasta Jakarta untuk periode 2025 sampai 2030. Ia menyiapkan tiga fase. Pertama, membenahi tata kelola organisasi. Kedua, memperkuat kapasitas Sispala lewat pendekatan ke sekolah. Ketiga, mengubah cara pandang terhadap Sispala. "Sispala adalah wadah pembentukan karakter. Bukan sekadar ekskul," katanya.

Dinas Pendidikan DKI Jakarta menilai Sispala memberi sumbangan pada pendidikan karakter. "Pendidikan bukan hanya di ruang kelas, tapi juga bisa digali dari alam, laut, hutan dan gunung," kata Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taga Raja Gah.

Sejak itu kegiatan Sispala berjalan lagi. Ada pendakian bersama ke Gunung Gede, diskusi kebencanaan bersama BNPB, dan lomba pungut sampah saat pendakian. Kegiatan positif inilah yang dipakai alumni untuk melawan stigma, bukan pernyataan pembelaan.

Pada 18 Oktober 2026, Fasta membentuk Fasta Rescue di Universitas Negeri Jakarta. Sekretaris Umum Fasta, Prasenja, menyebut pemicunya peristiwa hilangnya lima jurnalis saat meliput erupsi Anak Krakatau. Salah satunya alumni Sispala SMAN 37 Jakarta. "Pengalaman di alam terbuka harus diperkuat dengan kapasitas kebencanaan yang lebih baik," katanya. Ketua Fasta Rescue Rio Susanto menyiapkan pendidikan dan pelatihan, dengan pembekalan dari BNPB dan Basarnas Jakarta I.

Kisah panjang pembinaan ini diceritakan Adjie Rimbawan dalam FMI Podcast. Intinya bukan soal citra, melainkan keselamatan dan pembinaan. Ekstrakurikuler pecinta alam bisa jadi tempat belajar karakter, asalkan aturan dan pendampingannya jelas.

JAKARTA, Berita FMI - The name Sispala, the student outdoor club, often appears alongside bad news. The stigma did not come from nowhere. In 2014, a student of SMA Negeri 3 Jakarta died after taking part in an outdoor club training.

Arfiand Caesar Al Irhami, 16, died on June 20, 2014 during an activity on Mount Tangkuban Perahu, West Java. Police found bruises and suspected assault. In March 2015, two alumni of the school were sentenced to one year in prison. The judges said their actions had damaged the image of outdoor clubs.

The case hit outdoor club activities across Jakarta. The provincial government issued Jakarta Governor Regulation No. 179 of 2015, which restricted extracurricular activities, including a ban on outdoor club trips outside the city. The education office issued a matching circular. Between 2015 and 2018, Jakarta's Sispala groups retreated. Some schools chose to shut their clubs down.

That is where the Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) Jakarta began on July 10, 2018. The non-profit was formed out of concern over restrictions on outdoor activities. Its role is to assist, guide and supervise Sispala clubs in senior high schools and vocational schools.

A path back opened through Jakarta Governor Regulation No. 56 of 2019. Fasta drew up a code of ethics for outdoor clubs, standard operating procedures, and a channel between students, teachers, parents and alumni. The aim is simple: outdoor activities without violence.

In May 2025, Adjie Rimbawan was elected again as chairman of Fasta Jakarta for 2025 to 2030. He set out three phases. First, fixing how the organisation is run. Second, strengthening Sispala through closer work with schools. Third, changing how people see Sispala. "Sispala is a place to build character. Not just an extracurricular activity," he said.

The Jakarta education office sees Sispala as a contributor to character education. "Education is not only in the classroom, it can also be drawn from nature, the sea, the forest and the mountains," said Taga Raja Gah, secretary of the Jakarta education office.

Since then Sispala activities have resumed. There have been joint climbs of Mount Gede, disaster discussions with the national disaster agency BNPB, and a litter collection contest during the climb. These activities are what the alumni use against the stigma, not statements of defence.

On October 18, 2026, Fasta formed Fasta Rescue at the State University of Jakarta. Fasta secretary general Prasenja said the trigger was the disappearance of five journalists covering the Anak Krakatau eruption. One of them was an alumnus of the Sispala club at SMAN 37 Jakarta. "Experience in the outdoors has to be backed by better disaster response capacity," he said. Rio Susanto, head of Fasta Rescue, is preparing education and training, with briefings from BNPB and Basarnas Jakarta I.

The long story of that rebuilding was told by Adjie Rimbawan on FMI Podcast. The point is not image, but safety and coaching. A student outdoor club can be a place to learn character, as long as the rules and the supervision are clear.