Delegasi Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kathmandu, Nepal, Rabu (28/10/2026). Lima orang berangkat. Agenda mereka Sidang Umum UIAA 2026 yang berlangsung 30 sampai 31 Oktober di Hotel Yak & Yeti. Nepal Mountaineering Association (NMA) menjadi tuan rumah.
UIAA (International Climbing and Mountaineering Federation) adalah induk federasi pendakian gunung dan panjat tebing dunia. Organisasi ini berdiri pada 1932 di Chamonix, Prancis, dan berkantor pusat di Bern, Swiss. Label UIAA pada tali, carabiner, dan helm lahir dari badan ini. Sidang Umum adalah forum tertinggi, tempat keputusan utama organisasi diambil.
Rangkaian acara sudah berjalan sebelum sidang dibuka. Koordinasi Executive Board UIAA dan NMA berlangsung 26 Oktober. Setelah itu Mountain Safety Symposium edisi ketiga pada 27 sampai 28 Oktober, dengan materi teori di ICIMOD Lalitpur dan praktik lapangan di Kakani.
Brigjen TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief, S.I.P., M.M., memimpin delegasi. Dia juga Wakil Ketua PB FMI. Anggota delegasi: Sekretaris Jenderal dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B-ET, FINACS; Wakil Sekretaris Jenderal Kolonel Marinir Arief Rahman Hakim, M.Tr (Opsla)., M.Han; Kepala Biro Hubungan Luar Negeri Zulfahmi Ramli; dan Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi dr. Putro Setyobudyo Muhammad, MBL, CIHL.
Di sela rangkaian itu, FMI menandatangani kesepakatan kemitraan strategis dengan tiga organisasi Nepal. Dua di antaranya asosiasi pemilik jalur dan jasa perjalanan di Himalaya, yaitu NMA dan Trekking Agencies Association of Nepal (TAAN). Satu lagi wadah pemandu gunung, Nepal National Mountain Guide Association (NNMGA).
Bagi FMI, kehadiran di Kathmandu bukan sekadar memenuhi undangan. “Sidang Umum UIAA adalah forum tertinggi federasi pendakian gunung dunia. Kehadiran FMI di Kathmandu bagian dari tanggung jawab kami membangun tata kelola pendakian yang tertib, aman, dan berkelanjutan,” kata Mayjen TNI Mar (Purn.) Buyung Lalana, Ketua Umum PB FMI.
Yang dibawa Indonesia ke forum itu pengalaman mengelola gunung berapi, hutan tropis, dan jalur yang tersebar di banyak pulau. Indonesia punya gunung berapi di kawasan Ring of Fire, hutan tropis, dan bentang kepulauan lebih dari 17 ribu pulau. “Indonesia memiliki karakter pegunungan kepulauan yang khas. Pengalaman mengelola kondisi itu kami bawa untuk dipertukarkan dengan federasi dari berbagai negara,” ujarnya.
Posisi Indonesia di peta pendakian dunia juga besar. Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid satu dari tujuh puncak dunia. Indonesia memegang kawasan pegunungan tropis terluas, tersebar dari Sumatra sampai Papua. Data Kementerian Luar Negeri RI mencatat sekitar 150 ribu wisatawan asing datang ke Indonesia untuk pendakian setiap tahun. Nepal sekitar 115 ribu.
Perjalanan delegasi berjalan dengan dukungan Direktorat Asia Selatan dan Tengah, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri RI. Surat dukungannya bernomor NK B.30.260157 tanggal 7 September 2026. Dukungan juga datang dari KBRI Dhaka untuk Bangladesh dan KBRI Kathmandu untuk Nepal.
FMI menyampaikan terima kasih kepada Kepala Staf Angkatan Laut, Panglima Korps Marinir, dan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI. Terima kasih juga kepada Eiger yang mendukung perjalanan ini. Delegasi berada di Kathmandu sampai 2 November 2026.
A delegation of the Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) left Soekarno-Hatta Airport for Kathmandu, Nepal, on Wednesday (28/10/2026). Five people are travelling. Their agenda is the 2026 UIAA General Assembly, held on 30 and 31 October at Hotel Yak & Yeti. The Nepal Mountaineering Association (NMA) is the host.
The UIAA (International Climbing and Mountaineering Federation) is the world governing body for mountaineering and climbing. It was founded in 1932 in Chamonix, France, and has its headquarters in Bern, Switzerland. The UIAA label on ropes, carabiners, and helmets comes from this body. The General Assembly is its highest forum, where the organisation's main decisions are taken.
The programme began before the assembly opened. Coordination between the UIAA Executive Board and NMA took place on 26 October. The third Mountain Safety Symposium followed on 27 and 28 October, with classroom sessions at ICIMOD Lalitpur and field practice in Kakani.
Brigadier General TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief, S.I.P., M.M., leads the delegation. He is also Deputy Chairman of PB FMI. The members are Secretary General dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B-ET, FINACS; Deputy Secretary General Colonel Marinir Arief Rahman Hakim, M.Tr (Opsla)., M.Han; Head of the Foreign Relations Bureau Zulfahmi Ramli; and Head of the Research, Development and Innovation Division dr. Putro Setyobudyo Muhammad, MBL, CIHL.
On the sidelines of the programme, FMI signs strategic partnership agreements with three Nepali organisations. Two of them are associations of route owners and travel operators in the Himalaya, namely NMA and the Trekking Agencies Association of Nepal (TAAN). The third is the mountain guides body, the Nepal National Mountain Guide Association (NNMGA).
For FMI, being in Kathmandu is more than answering an invitation. “The UIAA General Assembly is the highest forum of the world's mountaineering federations. FMI's presence in Kathmandu is part of our responsibility to build orderly, safe, and sustainable trekking governance,” said retired Major General TNI Mar Buyung Lalana, Chairman of PB FMI.
What Indonesia brings to the forum is experience in managing volcanoes, tropical forests, and trails spread across many islands. Indonesia has volcanoes along the Ring of Fire, tropical forests, and an archipelago of more than 17 thousand islands. “Indonesia has a distinctive archipelagic mountain character. We bring that experience to exchange with federations from other countries,” he said.
Indonesia's standing on the world climbing map is also significant. Puncak Jaya, or Carstensz Pyramid, is one of the seven summits. Indonesia holds the largest tropical mountain region, spread from Sumatra to Papua. Data from Indonesia's Ministry of Foreign Affairs records about 150 thousand foreign visitors coming to the country for climbing each year. Nepal records about 115 thousand.
The trip is supported by the Directorate of South and Central Asia, Directorate General of Asia Pacific and Africa at Indonesia's Ministry of Foreign Affairs. The support letter is numbered NK B.30.260157 and dated 7 September 2026. Support also comes from the Indonesian Embassy in Dhaka for Bangladesh and the Indonesian Embassy in Kathmandu for Nepal.
FMI thanks the Chief of Staff of the Indonesian Navy, the Commander of the Marine Corps, and the Head of the Strategic Intelligence Agency of the Indonesian Armed Forces. Thanks also go to Eiger, which supports this trip. The delegation stays in Kathmandu until 2 November 2026.
Delegasi FMI ke Kathmandu dalam Tujuh Slide
FMI Delegation to Kathmandu in Seven Slides
Versi ringkas untuk dibagikan di Instagram, dari materi yang sama dengan artikel ini.
A short version to share on Instagram, built from the same material as this article.