KATHMANDU, NEPAL - Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Nepal National Mountain Guide Association (NNMGA) di Kathmandu, Nepal, Jumat (30/10/2026). Penandatanganan berlangsung di sela-sela rangkaian Sidang Umum UIAA 2026 dan disaksikan perwakilan KBRI Dhaka, yang wilayah kerjanya juga mencakup Nepal.

KATHMANDU, NEPAL - The Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) signed a Memorandum of Understanding (MoU) with the Nepal National Mountain Guide Association (NNMGA) in Kathmandu, Nepal, on Friday (30/10/2026). The signing took place on the sidelines of the 2026 UIAA General Assembly and was witnessed by representatives of the Indonesian Embassy in Dhaka, whose remit also covers Nepal.

NNMGA adalah asosiasi profesi di Nepal yang menjaga standar keahlian di jalur-jalur Himalaya. Isi MoU menyangkut penyelamatan di ketinggian: pelatihan, sertifikasi, dan pertukaran instruktur, dengan prioritas High Altitude Mountain Rescue pada 2027-2028.

The NNMGA is a professional association in Nepal that keeps skills standards on Himalayan routes. The MoU concerns high-altitude rescue: training, certification and instructor exchange, with High Altitude Mountain Rescue as its first priority in 2027-2028.

Dari pihak Indonesia hadir Ketua Delegasi FMI Brigjen TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief, S.I.P., M.M.; Sekretaris Jenderal dr. M. Iqbal El Mubarak, Sp.B-ET, FINACS; Wakil Sekretaris Jenderal Kolonel Marinir Arief Rahman Hakim, M.Tr (Opsla)., M.Han; Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi dr. Putro Setyobudyo Muhammad, MBL, CIHL; dan Ketua Biro Hubungan Luar Negeri Zulfahmi Ramli.

Present from the Indonesian side were the head of the FMI delegation, Brig. Gen. TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief, S.I.P., M.M.; secretary general dr. M. Iqbal El Mubarak, Sp.B-ET, FINACS; deputy secretary general Col. Marinir Arief Rahman Hakim, M.Tr (Opsla)., M.Han; head of research, development and innovation dr. Putro Setyobudyo Muhammad, MBL, CIHL; and head of foreign relations Zulfahmi Ramli.

Hadir juga perwakilan RI di Nepal dan Bangladesh: Wakil Konsul Kehormatan RI untuk Nepal Upendra, Atase Pertahanan KBRI Dhaka Kolonel Inf. Imam Setiawan, Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Dhaka Sahid Nurkarim, dan Pranata Informasi Diplomatik KBRI Dhaka Tomo Sudrajat.

Also present were Indonesian representatives in Nepal and Bangladesh: deputy honorary consul for Nepal Upendra, defence attache at the Indonesian Embassy in Dhaka Col. Inf. Imam Setiawan, social and cultural affairs officer Sahid Nurkarim, and diplomatic information officer Tomo Sudrajat.

Dari NNMGA hadir Presiden Tul Singh Gurung, Immediate Past President Ang Norbu Sherpa, Vice President Lakpa Sherpa, General Secretary Pimba Tenjing Lama, Treasurer Abiral Rai, anggota CEB Vinayak Jaya Malla, Convener Komite Teknis Riten Jangbu Sherpa (Tashi), senior guide expert Lambabu Sherpa dan Tshering Pande Bhote, serta staf Sobit Kunwar dan Riruk Bhote.

From the NNMGA came president Tul Singh Gurung, immediate past president Ang Norbu Sherpa, vice president Lakpa Sherpa, general secretary Pimba Tenjing Lama, treasurer Abiral Rai, CEB member Vinayak Jaya Malla, technical committee convener Riten Jangbu Sherpa (Tashi), senior guide experts Lambabu Sherpa and Tshering Pande Bhote, and staff members Sobit Kunwar and Riruk Bhote.

Ketua Delegasi FMI Brigjen TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief, S.I.P., M.M. menilai kerja sama ini menyentuh hal yang paling menentukan di lapangan. "Keselamatan pendakian ditentukan oleh orang yang memimpin di jalur dan pengetahuan yang dibawanya. Belajar dari praktik penyelamatan di Himalaya membuat standar kami naik, dan keahlian pendaki Indonesia punya jalan untuk diakui di tingkat dunia," katanya.

The head of the FMI delegation, Brig. Gen. TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief, S.I.P., M.M., said the cooperation touches the factor that decides most on the ground. "Climbing safety is decided by the person leading on the route and the knowledge they carry. Learning from Himalayan rescue practice raises our standards, and it gives Indonesian climbers' skills a path to international recognition," he said.

Ketua Umum PB FMI Mayjen TNI (Mar) Purn. Buyung Lalana, S.E. menyebut kerja sama ini sebagai arah jangka panjang. "Kami membangun tata kelola pendakian yang tertib, aman, dan berkelanjutan. Kerja sama dengan NNMGA adalah bagian dari upaya itu, agar pengalaman Indonesia di kawasan Ring of Fire dipertemukan dengan praktik terbaik dunia," ujarnya.

FMI chairman Maj. Gen. TNI (Mar) Ret. Buyung Lalana, S.E. described the cooperation as a long-term direction. "We are building climbing governance that is orderly, safe and sustainable. Cooperation with the NNMGA is part of that effort, bringing Indonesia's experience in the Ring of Fire together with global best practice," he said.

Inti kerja sama ini transfer pengetahuan, dan jalannya dua arah. Instruktur NNMGA datang mengajar di Indonesia, sementara cara FMI mengelola jalur di gunung api kawasan Ring of Fire dan hutan tropis menjadi bahan pelajaran bagi mereka. Bukan hanya menerima standar, tapi ikut menyumbang. Medan Indonesia yang tersebar di bentang kepulauan lebih dari 17 ribu pulau memberi persoalan yang jarang ditemui di jalur Himalaya: cuaca yang berubah cepat, kawah aktif, dan akses yang bergantung pada penyeberangan laut.

The heart of the cooperation is knowledge transfer, and it runs both ways. NNMGA instructors come to teach in Indonesia, while the way FMI manages routes on Ring of Fire volcanoes and in tropical forests becomes study material for them. It is not only about receiving standards, but also about contributing. Indonesia's terrain, spread across an archipelago of more than 17,000 islands, poses problems rarely met on Himalayan routes: fast-changing weather, active craters and access that depends on sea crossings.

Penandatanganan berlangsung di sela-sela rangkaian Sidang Umum UIAA 2026, 30-31 Oktober, yang digelar di Kathmandu dengan Nepal Mountaineering Association sebagai tuan rumah. Yang paling dinanti justru bagian setelah seremoni: jadwal pelatihan bersama dan pertukaran instruktur pada 2027-2028, termasuk siapa yang berangkat lebih dulu dan di jalur mana pelatihan lapangan digelar.

The signing took place on the sidelines of the 2026 UIAA General Assembly, held in Kathmandu on 30-31 October with the Nepal Mountaineering Association as host. What matters most comes after the ceremony: the joint training schedule and instructor exchange in 2027-2028, including who travels first and where the field training is held.